Berqurban Bukti Empati Kesetiakawanan Sosial

Kapolres Brebes menyerahkan hewan qurban ke Ponpes Assalafiyah Luwungragi doc Fadhil

Gema Takbir berkumandang sejak malam hari di tempat ibadah baik masjid, musholla maupun pondok pesantren, umat Islam dengan kesetiakawanan sosial ingin berbagai manfaat, manusia yang memiliki nafsu cinta materi dan segala pesona dunia,  ingin mentasyarufkan hartanya melalui daging qurban disaat hari Idhul Adha.

Jika hasrat manusia yang tdak terbimbing dan tak terkendali maka fitrah yang suci di badannya akan tumpah ke segala arah. Pasalnya hasrat primitif manusia seperti  keangkuhan, keserakahan, kesewenangan, korupsi, kebohongan, kekerasan, kebencian, dan kemunafikan, serta segala wujud tiran sesungguhnya pantulan dari jiwa yang nafsunya.

Dr. Haedar Nasir, MSi dalam materi khutbah populernya juga menjelaskan melalui fondasi jiwa tauhid dalam spirit Ibadah Haji dan Qurban, setiap muslim harus mampu menaklukkan egoisme diri. Ego yang merasa diri benar sendiri, diri yang digdaya dan berkuasa, diri yang serba hebat disertai sikap merendahkan, menzalimi, dan memperlakukan orang lain semena-Mena.

Ego yang bernafsu rakus menguasai kekayaan alam dan kekayaan negara untuk kepentingan diri atau segelintir orang, yang menyebabkan kesenjangan dan kesengsaraan rakyat. Egoisme yang menyebabkan sebagian kecil di tubuh bangsa ini tidak empati dan tidak peduli rerhadap derita Sesama, seolah hidup menyendiri.

Putihnya kain Ihram yang tak beralas dan seluruh prosesi ibadah haji hingga puncak Wukuf di Arafah. Pada kepasrahan Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar dalam Ritual Ibadah Qurban yang dramatik. Keduanya selain mengajarkan orientasi ketuhanan yang Hanif  bahwa manusia sehebat apapun sesungguhnya lemah di hadapan-Nya, secara horizontal kedua Ibadah itu menanamkan jiwa Ihsan atau kebajikan semesta yang sarat makna.
Pesan qurban di hari idhul adha adalah kemanusiaannya sangat luhur kenapa demikian, pasalnya agar setiap Insan berriman berbuat kebaikan yang melampaui sekat-Sekat Agama, Suku, Ras, Golongan, dan segala pagar Kenaifan Untuk Tegaknya Kehidupan Bersama Yang Serbautama.

Siapapun yang  berhaji dan berqurban dalam Ritual Islam sejatinya menambatkan peribatan Itu Pada Niat Ikhlas Hanya Untuk Tuhan Semata Sebagaimana Firman Allah:
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya Sembahyangku, Ibadatku, Hidupku Dan Matiku Hanyalah Untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (QS Al-An’am: 162).
Dalan khutbah idhul adha di Masjid Setiabudi Brebes juga khotib Wahyudin Tsaqib menyampaikan, ajaran ketulusan ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Putra tercintanya Ismail dalam kisah Qurban.

Dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat 101-111 yang artinya sebagai berikut: “Maka kami beri Dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim.
Ibrahim berkata: “Hai Anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia Menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala Keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (Nya), (Nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami Panggillah Dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi Itu”, Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan Yang besar.

Kami abadikan untuk Ibrahim Itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (Yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah kami memberi balasan kepada Orang-Orang Yang Berbuat Baik.” (QS Ash-Shaffat: 101-111).
Betapa tinggi makna dan fungsi dari ibadah qurban itu baik bagi pelaku maupun umat sesama. Ibadah qurban mengajarkan amal Shaleh dan Ihsan. Setiap Insan beriman yang memiliki kelebihan rizki dan akses kehidupan, dia niscaya untuk peduli dan berbagi bagi sesama yang membutuhkan tanpa diskriminasi.

Si Kaya berbagi rizki untuk si Miskin. Kaum cerdik pandai berbagi Ilmu kepada uang awam. Sesama manusia saling menjujung tinggi martabat. Laki-Laki dan Perempuan saling menghormati dan memuliakan. Siapapun uang diberi akses kekuasaan dan kekayaan sedangkan dia beriman, maka harus mau berkorban bagi sesama, lebih-Lebih bagi yang membutuhkan.

Posting Komentar

0 Komentar